Sabtu, 30 April 2011

Group means nothing


disuatu hari yang sangat panas terik sehari sebelum natal, saya dan kelompok fotografi harus pergi untuk me-take beberapa foto untuk uas fotografi. Foto tersebut nantinya akan dijadikan sebuah iklan print, sehingga harus dibuat sekomunikatif mungkin. Dan masalah pun dimulai…
nabi : kita pake iklan yang ini aja apa (menunjuk sebuah print ad yang gambarnya vulgar. Gambar wanita telanjang pake korset berbentuk tali sepatu ). Nanti kita suruh si S pake kaya gini, terus nanti gue yang megangin dari depan hahaha (ketawa mesum)
Gicun: (ngelirik gambarnya) yaudah nanti gue yang ngiketin talinya dipunggung pelabuhan hahaha
(gicun dan nabi berfantasi mesum tapi norak)
Beryl : terus kalo lo berdua cuma mau megangin, yang berani bilang ke pelabuhan buat jadi modelnya siapa?
Gicun  : hah? hahaha oiya hahahah
(dipertemuan sebelumnya)
Nabi : jadi kita fotonya apa nih su
Gicun : yaudah kita pake  foto strip tiga aja deh
Nabi : berarti iklannya impossible is nothing, kita foto kaya lagi jalan ditembok aja, impposible is nothing kan
Gicun : bisa. tapi itu gak ada meaningnya
Beryl : kalo strip tiga tuh lebih identik ke sport
Nabi : kalo gitu blalalalala (menjelaskansebuah ide yang emang imposible and nothing)
Beryl : yang realistis aja napah
Amet : oh kalo itu gue punya ide,
( tiba-tiba hening)
Amet : kita siang-siang  foto di bunderan HI aja. 3 jam kita foto bulb (menekan shutter selama 3jam)  aja kan jadi keren kaya kata maspri (dosen fotografi) tuh HI jadi sepi, keren impposible is nothing (wajah serius dan menggebu-gebu)
Nabi, gicun, beryl : . . . . .  Ngeh (bertemu pandang). . . . . (seketika itu merasa otak amet mengalami kerusakan karena terlalu sering mencium aroma jeans gaulnya yang waktu itu belom pernah dicuci samasekali)

Hari semakin larut pagi berganti siang, siang berganti sore bukannya segera mengerjakan dan menyelesaikan tugas ini, kami malah jajan es cincau bedak yang dijual abang-abang keliling. Sambil menikmati enaknya cincau bedak, Amet yang masih fanatic dengan idenya mulai berfantasi yang gak masuk akal.  Gicun yang gatau apa-apa jadi korban keganasan fantasi amet. Gicun disuruh manjat pohon, manjat parabola dan bahkan disuruh acting dilindas mobil nabi. Gicun menjadi ngambek, Melihat hal tersebut saya pun tertawa  geli, hahaha.
Akhirnya kami jadi foto dengan konsep yang yang ditentukan dengan random, untungnya idea si amet untuk foto di bunderan HI siang-siang sambil mencet shuttershot selama 3 jam nya gak digubris. Saya tidak dapat membayangkan hal tsb apabila benar-benar terjadi, apalagi kalo salah.. tiga jam untuk satu jepret? dan sepert biasanya kerja kelompok memang tidak efektif (?).

reynaldi

saya pelawak tapi hidup saya bukan lawakan
saya bersandiwara tapi hidup saya bukan sandiwara



-tukul arwana-

Jumat, 29 April 2011

Psycedelic and krupuk



Hari ini hangat dan cukup melelahkan, saya yang kehausan karena berolahraga hendak membeli air mineral disebuah warung klontong. saat saya sedang membeli minuman, tanpa sengaja saya melihat sesuatu yang cukup familiar.



Sembari tertawa dalam hati, saya seketika itu pula langsung berargumen.
1.       Produsen krupuk tsb sangat ngefans dengan khula shaker
2.       Krupuk tersebut punya cita rasa psychedelic (bila dikonsumsi seakan membuat jiwa ‘melayang’)
3.       Khula shaker punya bisnis baru, entah mlm atau frenchaise
Rasa penasaran mendikte saya untuk segera mengklarifikasi hal lucu ini. Untuk mengklarifikasi secara kecil-kecilan, saya mencoba menanyakan hal tsb kepada teman kampus saya yang mengaku sebagai fans khula shaker. Melihat hal ini ternyata mereka agak terkejut, tertawa dan terkikik-kikik. Saya mulai menduga mereka adalah fans yang Cuma sekedar ikut-ikutan saja, karena mereka mengaku tidak tahu-menahu mengenai hal ini dan mereka berasumsi juga bahwa kula shaker menginvestasikan kekayaannya berupa usaha kerupuk. Memang akhir kenyataannya seakan masih menggantung, so what do you think?. LOL.

Minggu, 17 April 2011

saturday night

suatu ketika saya bersama galih dan genia menjadi orang sejurusan yang pulang belakangan di kampus. entah karena hujan atau hasrat  bermain saya yang tinggi, saya menjadi enggan untuk pulang sedangkan galih dan genia ngakunya sih ngerjain tugas. dan seperti biasanya kami cuma luntang-lantung gak jelas dikampus.

akhirnya dengan sedikit pencerahan dari Tuhan, kami putuskan untuk mengisi malam minggu haru kami dengan menonton bareng. akhirnya saya dan galih pergi ke-rental film yang gak terlalu jauh dari kontrakannya. sebelumnya kami memang sudah sepakat-an untuk menonton film-film yang kental dengan unsur horor, thriller dan semacamnya.

ketika sedang asyik mencari film apa yang akan kami sewa, ada sebuah film yang seakan memiliki stopping power yang kuat. entah mengapa film ini sangat mencolok diantara film-film lainnya yang disusun agak random.


tanpa pikir panjang, tanpa tau apa, genre, dan isi ceritanya, saya ambil dan coba tanyakan kepada galih apa dia setuju.

beryl : 'lih film ini yah, kayanya seru deh gue sampe merinding gatau kenapa'
galih  : 'yaudah bawa aja ber'

karena masih penasaran dengan alur ceritanya, saya coba bertanya pada rent-keeper-nya. tetapi nihil dengan alasan nanti filmnya gak seru kalo diceritain (curiga dia belom nonton jg), akhirnya pertanyaan berakhir dengan jawaban yang gantung.

singkatnya saya dan galih akhirnya menyewa film orphan, grudge 3, saw 2, shutter dan rumah dara. tanpa perencanaan saya, galih dan genia akhirnya mengajak dimas  dan memutuskan untuk tidak pulang kerumah dan bermalam di kontrakan genia untuk friend's quality time (nobar horor LOL).

demi apapun film ini sangat recommended ! great! scary! and freaky!. sepanjang alur film saya, galih dan dimas sudah gak karu-karuan, sedangkan genia hanya cengengesan, soalnya dia mengaku udah pernah nonton (ga asik lo mbajen canda). menonton film itu saya merasanya seperti kumpulan ibu-ibu yang sedang nonton sinetron, terus bergumam, mendikte tokoh utama dan mengutuk lawan tokoh utamanya. film ini freak banget, saya dan galih seakan  menjadi orang stress karenanya, film ini sukses bisa memprovokasi emosi kami.